Kamis, Maret 24, 2011

10 Ciri Wanita Idaman Pria


Dilansir dari Askmen (senin,18/9/2006). Pria buka mulut soal wanita idaman yg membuat mereka tergila-gila. 10 ciri-ciri wanita impian pria untuk menjadi kekasihnya:
  1. Wanita yg menjadikan anda pria lebih baik. Pada dasarnya seorang pria yang mempunyai kekasih atau istri yang hebat akan berkata pasangannya lah yang membuatnya ingin menjadi orang yang lebih baik.
  2. Wanita yang mencintai anda sepenuh hati. Jika anda menemukan wanita yang mencintai anda sepenuh hati, mau menerima anda apa adanya jangan sia-siakan dia. Tentunya setiap manusia itu mempunyai kebiasaan yang menjengkelkan, tapi jika ia mencintai anda sepenuh hati,pasti dia bisa memakluminya.
  3. Wanita yang cepat akrab dengan teman dan keluarga kekasihnya. Pacar yang baik sangat menghargai orang-orang yang dianggap penting bagi kekasihnya.
  4. Wanita yang bisa mengontrol emosi. Pada dasarnya semua wanita cenderung tukang ngomel. Pacar yang baik tau kapan waktunya menahan amarah n kapan waktu yang tepat untuk mengeluarkannya.
  5. Wanita yang bisa menghargai kepribadian kekasihnya. Secara tak sadar kadang kepribadian pria berubah karena permintaan kekasihnya. Nah kekasih semacam inilah yang dihindari pria.
  6. Wanita yang menghormati kekasihnya. Hal ini penting!!. Pria akan senang jika punya pacar yang bisa menghargai dan menghormatinya sebagai seorang lelaki.
  7. Wanita yang cantik. Layaknya istri,pacar yang hebat pastinya juga ingin terlihat cantik dimata kekasihnya.
  8. Wanita yang satu hati soal seks. Ketidak cocokan masalah seks bisa jadi problem yang mengganjal dalam hubungan anda.
  9. Wanita yang cerdas. Wanita yang cerdas akan mempunyai berbagai macam cara yang bisa membuat kekasihnya tidak bosan jika berada di dekatnya.
  10. Wanita yang mandiri. Tak ada seorang pria yang ingin menjadi baby sitter kekasihnya.

Tipe Wanita Idaman Pria itu seperti apa sih?


Apa yang sebenarnya dicari dari para pria terhadap calon pendampingnya kelak? Apakah fisik atau kepribadian dari seorang wanita yang menjadi pertimbangan utamanya? Semua itu memang sulit ditebak, karena setiap pria memiliki karakter yang berbeda satu sama lain. Begitu pun dengan wanita. Lalu tipe wanita seperti apakah yang didambakan oleh seorang pria? Berikut ulasannya!

Menarik luar-dalam
Bukan hanya urusan fisik semata yang menjadi pertimbangan utama para pria. Namun lebih daripada itu adalah kecantikan dari dalam diri wanita itu sendiri alias inner beauty yang merupakan target utama para pria dalam mencari pujaan hatinya. Tidak dipungkiri tubuh yang proposional dan wajah cantik yang dimiliki oleh seorang wanita, sering membuat mata pria terpanah, tapi setelah si pria ingin mengenal wanita tersebut lebih jauh lagi, yang didapatnya hanyalah tampilan luarnya saja yang ok, sedangkan kepribadiannya tidak balance. Jadi keseimbangan antara kecantikan luar dan dalam adalah faktor penentu seorang pria menjatuhkan pilihannya terhadap wanita idamannya.

Cerdas dan dapat berkomunikasi dengan baik
Bagi pria, seorang wanita yang cerdas berarti ia bukan saja memiliki keintelektualan dalam soal pendidikan, tapi juga wawasan yang luas. Wanita yang demikian itu akan lebih mudah diajak bertukar pikiran, dibanding dengan wanita yang hanya bisa mengiyakan semua perkataan pria tanpa memberikan pendapatnya sendiri. Selain itu, Pria akan sangat senang bila lawan bicaranya dapat merespon dengan baik seputar topik-topik pembicaraan yang sedang dibahas. Jadi wanita yang cerdas dan tidak tulalit memiliki sisi yang seksi di mata para pria.

Mandiri dan tidak manja
Tahukah Anda, terkadang sikap manja yang berlebihan yang ditujukkan seorang wanita terhadap kekasihnya, sering membuat pihak pria merasa malas untuk meladeni kemanjaan pasangannya itu. Setelah ditelusuri lebih dalam, tidak sedikit pria yang mendambakan wanita yang memiliki kemandirian. Tidak sedikit pria yang menaruh rasa kagum dan hormatnya kepada wanita yang ingin bekerja keras demi memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa selalu bergantung pada orang lain. Namun bukan berarti pria tidak ingin merasa dibutuhkan keberadaan dan bantuannya, tapi ada waktunya dimana pria ingin juga merasakan kebebasan untuk menghabiskan waktu berkumpul dengan sahabatnya atau melakukan hobinya.

Periang dan humoris
Kebanyakan pria memandang wanita tidak hanya dari pribadi yang serius tapi juga dari sisi lainnya yakni sikap peringan dan humoris. Kebanyakan pria berpendapat bila seorang wanita yang memiliki rasa humor atau sikap yang periang, maka wanita tersebut termasuk kategori petarung hebat di atas ranjang. Hal itu dikarenakan wanita yang demikian lebih mudah bila diajak mengeksplore imajinasi seksualnya, ketimbang wanita yang hanya pasrah menerima 'serangan-serangan' pria saat bercinta.

Cepat beradaptasi dengan sahabat dan keluarga si pria
Adalah spesial dimana mata pria, bila wanita yang dicintainya bisa dengan cepat berbaur dan akrab dengan keluarga serta sahabatnya. Memang butuh proses untuk dapat diterima dilingkungannya. Sikap yang luwes, ramah dan tulus dalam mengenal orang-orang yang penting dalam kehidupan pria, merupakan point terpenting yang bisa membawa Anda masuk lebih dalam ke relung jiwanya dan mendapatkan tempat yang spesial di hatinya dan juga keluarganya.

Dapat mengontrol emosi dan sikap
Wanita yang memiliki kesabaran dan sikap sopan santu serta tutur kata yang lembut, pastinya akan membuat para pria bertekuk lutut dihadapan wanita seperti itu. Mengapa tidak, kepribadian seperti itulah yang bisa membuat pria merasa nyaman bila berasa di dekat wanita pujaannya. Sedangkan, Emosi yang meledak-ledak dan sikap yang kasar dari seorang wanita sering membuat para pria mengernyitkan dahinya dan berkata dalam hati "hey, What's wrong with you, babe?" dan seketika mereka menghilang entah kemana, karena merasa dirinya hanya dijadikan tempat pelampiasan amarah si wanita. Dengan kata lain, wanita yang suka marah-marah tidak jelas dan diiringi dengan kata-kata yang kasar, serta bersikap kekanak-kanakan, akan membuat para pria berpikir seribu kali untuk mendekati atau mengenal lebih.

Sabtu, Maret 19, 2011

Tsunami Jepang dan Media Kita


JEPANG adalah “negeri asal” gelombang laut raksasa bernama Tsunami. Tsunami adalah bahasa Jepang, berasal dari dua suku kata. TSU, berarti pelabuhan dan NAMI yang berarti gelombang. Tsunami kemudian diartikan secara bebas menjadi gelombang laut yang menghantam pelabuhan.
Kata Tsunami menjadi bagian bahasa dunia, setelah gempa besar 15 Juni 1896, yang menimbulkan gelombang besar melanda kota pelabuhan Sanriku (Jepang) dan menewaskan 22.000 orang serta merusak pantai timur Honshu sepanjang 280 kilometer.
Gempa bumi adalah hal biasa di Jepang, salah satu daerah yang paling sering dilanda gempa di dunia. Negara itu mengalami sekitar 20 persen dari total gempa bumi dunia berkekuatan 6 Skala Richter atau lebih. Rata-rata, sebuah gempa bumi terjadi setiap lima menit di dunia.
Pada hari Jumat, 11 Maret lalu, gempa kembali menghampiri Jepang. Gempa kali tidak biasa lagi, karena dating menghujam dengan kekuatan 8,9 Skala Richter dan berujung Tsunami di sejumlah daerah.
Hingga hari ini, diperkirakan lebih dari 10 ribu korban tewas. Selain itu, warga Jepang juga terancam mengalami radiasi akibat meledaknya reaktor nuklir.
Beberapa saat setelah kejadian, stasiun televisi NHK muncul dengan gambar mengerikan. Kita disuguhkan dengan tayangan gelombang laut raksasa yang meluluhlantakkan sebagian wilayah Sendai. Gambar yang tersaji ke layar kaca, sungguh luar biasa. Tragis dan memilukan.
Tapi…adakah gambar orang-orang histeris? Adakah reporter televisi yang berlari sambil mewawancarai orang-orang yang juga sedang berlari?. Adakah lagu-lagu pengiring (backsound) yang menyayat hati?. Atau, adakah hujatan kepada pemerintah dan lembaga penanggulangan bencana, karena persoalan bantuan tanggap darurat?.
Sepanjang yang saya amati, itu sama sekali tidak terlihat. Yang terlihat adalah, sebuah ketegaran. Jepang memang dilanyau Tsunami. Tapi tak ada tangisan. Tak ada mayat bergelimpangan di jalanan yang muncul di layar televisi.
Apakah stasiun tv di Jepang sana tak punya visual mayat bergelimpangan atau tangis kesedihan? NHK adalah stasiun televisi terbesar di Jepang yang memiliki teknologi canggih. NHK satu-satunya lembaga penyiaran publik di Jepang yang memulai siaran radio pada tahun 1925. Perusahaan ini didanai oleh iuran televisi yang dibayar pemilik pesawat televisi dengan tujuan memberikan materi siaran yang bebas dari pengaruh politik atau lembaga swasta.
Mereka punya setidaknya 14 unit helikopter yang memantau perkembangan dari tiap sudut. Mereka juga punya jaringan kamera CCTV dari segala penjuru kota yang bias di akses kapanpun.
Dengan segala kecanggihan teknologi yang dimiliki, tentu saja mereka punya gambar dari berbagai angle, termasuk kesedihan warga.
Tapi yang muncul di layar adalah gambar-gambar yang tidak cengeng. Tidak ada jurnalis yang melaporkan kepada pemirsa, seakan-akan berada dalam kondisi sangat gawat. Tidak ada anak-anak yang menjerit histeris, karena ketakutan.
Visual yang muncul adalah situasi yang tenang. Gambar yang informatif bagaimana tsunami datang, tapi tidak provokatif dengan “memaksa” korban untuk bicara di depan kamera. Juga tidak cengeng, dengan memunculkan gambar-gambar orang menangis.
Kondisi ini jelas sangat berbeda dengan media di Indonesia. Media kita rajin memasang label “ekslusif” untuk mempertegas eksistensi diri sebagai media yang lebih hebat dibanding yang lain. Walaupun sesungguhnya, media lain juga punya cerita atau gambar yang sama. Pasang merek dulu. Soal benar-benar ekslusif atau tidak, itu cerita lain.
Peristiwa terakhir terjadi pada Tsunami yang melanda Mentawai Oktober 2010 lalu. Pada hari pertama dan kedua kejadian, belum satupun media yang memiliki gambar, baik foto maupun video tentang kondisi di daerah kepulauan tersebut. Selain faktor komunikasi, Mentawai juga sulit dijangkau dari Kota Padang, dimana wartawan berada. Satu-satunya yang bisa dengan segera mengabadikan situasi terkini di Mentawai saat itu, dan membawa hasilnya kembali ke Padang, adalah tim Rumah Tangga Istana yang menyertai rombongan Wakil Presiden Boediono menggunakan helikopter.
Gambar itulah yang kemudian dibagikan kepada seluruh media. Artinya, seluruh media mendapat gambar yang sama. Tidak ada yang berbeda. Tapi, di salah satu layar televise muncul label ekslusif, seakan-akan hanya media itulah yang punya. Padahal, di layar media tetangganya, gambar yang sama juga sedang diputar.
Media kita juga terbiasa bermain dengan visualisasi yang mengedepankan eksploitasi korban dan seakan berlomba memunculkan gambar mayat bergelimpangan, untuk memberi penegasan bahwa bencana itu begitu mengerikan.
Dalam beberapa pemberitaan di televisi, mewawancarai korban selamat (tapi luka) akibat bencana, adalah hal yang wajar. Tak peduli, apakah ia sedang meringis kesakitan sambil memegang tubuh yang luka, atau sedang berlarian menyelamatkan diri.
Begitu tega? Yap.
Manusiawi atau tidak? Tak penting. Yang penting, ada petikan wawancaranya.
Hal “wajib” lainnya yang muncul di media adalah soal distribusi bantuan yang terlambat. Peneliti LIPI, Irina Rafliana mencatat, cerita tentang distribusi bantuan yang terlambat selalu muncul pada hari kedua atau ketiga setelah kejadian. Seakan kompak, media ramai-ramai menghujat pemerintah atau penanggungjawab penanggulangan bencana. Bantuan yang sampai ke tangan para korban dengan segera, tidak menjadi berita. Yang berita adalah warga yang belum menerima bantuan.
Fenomena seperti itu, terus mengalami pengulangan di setiap bencana, dan akan terus berlangsung jika tidak dibenahi. Itu sebabnya, Jaringan Jurnalis Siaga Bencana (JJSB) sejak awal berusaha untuk merubah pola tersebut. Prinsip bad news is good news sudah bukan zamannya lagi. Good news juga bisa menjadi berita bagus dan layak. Mengubah maindset media bukanlah pekerjaan gampang, karena media seringkali juga terpaku dengan persoalan rating dan share.
Harapan kita tentu saja, akan muncul reportase atau liputan-liputan bencana yang beretika.
Bencana memang bisa menjadi berita besar. Tapi, berita buruk yang dimunculkan media, juga akan menjadi bencana besar tersendiri.**

Written by :
John Nedy Kambang
- Eksecutif Director Jaringan Jurnalis Siaga Bencana
- Koordinator Publikasi Forum PRB Sumatra Barat



Jumat, Maret 18, 2011

Say YES to GAMBARU!


Terus terang aja, satu kata yang bener2 bikin muak jiwa raga setelah tiba di
Jepang dua tahun lalu adalah : GAMBARU alias berjuang mati-matian sampai titik
darah penghabisan. Muak abis, sumpah, karena tiap kali bimbingan sama prof,
kata-kata penutup selalu : motto gambattekudasai (ayo berjuang lebih lagi),
taihen dakedo, isshoni gambarimashoo (saya tau ini sulit, tapi ayo berjuang
bersama-sama), motto motto kenkyuu shitekudasai (ayo bikin penelitian lebih  dan
lebih lagi). Sampai gw rasanya pingin ngomong, apa ngga ada kosa kata lain
selain GAMBARU? apaan kek gitu, yang penting bukan gambaru.

Gam baru itu bukan hanya sekadar berjuang2 cemen gitu2 aja yang kalo males atau
ada banyak rintangan, ya udahlah ya...berhenti aja. Menurut kamus bahasa jepang
sih, gambaru itu artinya :

"doko made mo nintai shite doryoku suru" (bertahan sampai kemana pun juga dan
berusaha abis-abisan)

Gambaru itu sendiri, terdiri dari dua karakter yaitu karakter "keras" dan
"mengencangkan". Jadi image yang bisa didapat dari paduan karakter ini adalah
"mau sesusah apapun itu persoalan yang dihadapi, kita mesti keras dan terus
mengencangkan diri sendiri, agar kita bisa menang atas persoalan itu" (maksudnya
jangan manja, tapi anggap semua persoalan itu adalah sebuah kewajaran dalam
hidup, namanya hidup emang pada dasarnya susah, jadi jangan ngarep gampang,
persoalan hidup hanya bisa dihadapi dengan gambaru, titik.).

Terus terang aja, dua tahun gw di jepang, dua tahun juga gw ngga ngerti, kenapa
orang2 jepang ini menjadikan gambaru sebagai falsafah hidupnya. Bahkan anak umur
3 tahun kayak Joanna pun udah disuruh gambaru di sekolahnya, kayak pake baju di
musim dingin mesti yang tipis2 biar ngga manja terhadap cuaca dingin, di dalam
sekolah ngga boleh pakai kaos kaki karena kalo telapak kaki langsung kena lantai
itu baik untuk kesehatan, sakit2 dikit cuma ingus meler2 atau demam 37 derajat
mah ngga usah bolos sekolah, tetap dihimbau masuk dari pagi sampai sore, dengan
alasan, anak akan kuat menghadapi penyakit jika ia melawan penyakitnya itu
sendiri. Akibatnya, kalo naik sepeda di tanjakan sambil bonceng Joanna, dan gw
ngos2an kecapean, otomatis Joanna ngomong : Mama, gambare! mama faitoooo! (mama
ayo berjuang, mama ayo fight!). Pokoknya jangan manja sama masalah deh, gambaru
sampe titik darah penghabisan it's a must!

Gw bener2 baru mulai sedikit mengerti mengapa gambaru ini penting banget dalam
hidup, adalah setelah terjadi tsunami dan gempa bumi dengan kekuatan 9.0 di
jepang bagian timur. Gw tau, bencana alam di indonesia seperti tsunami di aceh,
nias dan sekitarnya, gempa bumi di padang, letusan gunung merapi....juga
bukanlah hal yang gampang untuk dihadapi. Tapi, tsunami dan gempa bumi di jepang
kali ini, jauuuuuh lebih parah dari semuanya itu. Bahkan, ini adalah gempa bumi
dan tsunami terparah dan terbesar di dunia.

Wajaaaaaaar banget kalo kemudian pemerintah dan masyarakat jepang panik
kebingungan karena bencana ini. Wajaaaaar banget kalo mereka kemudian mulai
ngerasa galau, nangis2, ga tau mesti ngapain. Bahkan untuk skala bencana sebesar
ini, rasanya bisa "dimaafkan" jika stasiun-stasiun TV memasang sedikit musik
latar ala lagu-lagu ebiet dan membuat video klip tangisan anak negeri yang
berisi wajah-wajah korban bencana yang penuh kepiluan dan tatapan kosong tak
punya harapan. Bagaimana tidak, tsunami dan gempa bumi ini benar-benar menyapu
habis seluruh kehidupan yang mereka miliki. Sangat wajar jika kemudian mereka
tidak punya harapan.

Tapi apa yang terjadi pasca bencana mengerikan ini? Dari hari pertama bencana,
gw nyetel TV dan nungguin lagu-lagu ala ebiet diputar di stasiun TV. Nyari-nyari
juga di mana rekening dompet bencana alam. Video klip tangisan anak negeri juga
gw tunggu2in. Tiga unsur itu (lagu ala ebiet, rekening dompet bencana, video
klip tangisan anak negeri), sama sekali ngga disiarkan di TV. Jadi yang ada
apaan dong?

Ini yang gw lihat di stasiun2 TV :

1. Peringatan pemerintah agar setiap warga tetap waspada
2. Himbauan pemerintah agar seluruh warga jepang bahu membahu menghadapi bencana
(termasuk permintaan untuk menghemat listrik agar warga di wilayah tokyo dan
tohoku ngga lama-lama terkena mati lampu)
3. Permintaan maaf dari pemerintah karena terpaksa harus melakukan pemadaman
listrik terencana
4. Tips-tips menghadapi bencana alam
5. nomor telepon call centre bencana alam yang bisa dihubungi 24 jam
6. Pengiriman tim SAR dari setiap perfektur menuju daerah-daerah yang terkena
bencana
7. Potret warga dan pemerintah yang bahu membahu menyelamatkan warga yang
terkena bencana (sumpah sigap banget, nyawa di jepang benar-benar bernilai
banget harganya)
8. Pengobaran semangat dari pemerintah yang dibawakan dengan gaya tenang dan
tidak emosional : mari berjuang sama-sama menghadapi bencana, mari kita hadapi
(government official pake kata norikoeru, yang kalo diterjemahkan secara
harafiah : menaiki dan melewati) dengan sepenuh hati
9. Potret para warga yang terkena bencana, yang saling menyemangati :
*ada yang nyari istrinya, belum ketemu2, mukanya udah galau banget, tapi tetap
tenang dan ngga emosional, disemangati nenek2 yang ada di tempat pengungsian :
gambatte sagasoo! kitto mitsukaru kara. Akiramenai de (ayo kita berjuang cari
istri kamu. Pasti ketemu. Jangan menyerah)
*Tulisan di twitter : ini gempa terbesar sepanjang sejarah. Karena itu, kita
mesti memberikan usaha dan cinta terbesar untuk dapat melewati bencana ini;
Gelap sekali di Sendai, lalu ada satu titik bintang terlihat terang. Itu bintang
yang sangat indah. Warga Sendai, lihatlah ke atas.

Sebagai orang Indonesia yang tidak pernah melihat cara penanganan bencana ala
gambaru kayak gini, gw bener-bener merasa malu dan di saat yang bersamaan :
kagum dan hormat banget sama warga dan pemerintah Jepang. Ini negeri yang luar
biasa, negeri yang sumber daya alamnya terbatas banget, negeri yang alamnya
keras, tapi bisa maju luar biasa dan punya mental sekuat baja, karena : falsafah
gambaru-nya itu. Bisa dibilang, orang-orang jepang ini ngga punya apa-apa selain
GAMBARU. Dan, gambaru udah lebih dari cukup untuk menghadapi segala persoalan
dalam hidup.

Bener banget, kita mesti berdoa, kita mesti pasrah sama Tuhan. Hanya, mental
yang apa-apa "nyalahin" Tuhan, bilang2 ini semua kehendakNya, Tuhan marah pada
umatNya, Tuhan marah melalui alam maka tanyalah pada rumput yang bergoyang.....I
guarantee you 100 percent, selama masih mental ini yang berdiam di dalam diri
kita, sampai kiamat sekalipun, gw rasa bangsa kita ngga akan bisa maju. kalau
ditilik lebih jauh, "menyalahkan" Tuhan atas semua bencana dan persoalan hidup,
sebenarnya adalah kata lain dari ngga berani bertanggungjawab terhadap hidup
yang dianugerahkan Sang Pemilik Hidup. Jika diperjelas lagi, ngga berani
bertanggungjawab itu maksudnya  : lari dari masalah, ngga mau ngadepin masalah,
main salah2an, ngga mau berjuang dan baru ketemu sedikit rintangan aja udah
nangis manja.

Kira-kira setahun yang lalu, ada sanak keluarga yang mempertanyakan, untuk apa
gw menuntut ilmu di Jepang. Ngapain ke Jepang, ngga ada gunanya, kalo mau S2
atau S3 mah, ya di eropa atau  amerika sekalian, kalo di Jepang mah nanggung.
Begitulah kata beliau. Sempat terpikir juga akan perkataannya itu, iya ya, kalo
mau go international ya mestinya ke amrik atau eropa sekalian, bukannya jepang
ini. Toh sama-sama asia, negeri kecil pula dan kalo ga bisa bahasa jepang, ngga
akan bisa survive di sini. Sampai sempat nyesal juga,kenapa gw ngedaleminnya
sastra jepang dan bukan sastra inggris atau sastra barat lainnya.

Tapi sekarang, gw bisa bilang dengan yakin  sama sanak keluarga yang menyatakan
ngga ada gunanya gw nuntut ilmu di jepang. Pernyataan beliau adalah salah
sepenuhnya. Mental gambaru itu yang paling megang adalah jepang. Dan menjadikan
mental gambaru sebagai way of life adalah lebih berharga daripada go
international dan sejenisnya itu. Benar, sastra jepang, gender dan sejenisnya
itu, bisa dipelajari di mana saja. Tapi, semangat juang dan mental untuk tetap
berjuang abis-abisan biar udah ngga ada jalan, gw rasa, salah satu tempat yang
ideal untuk memahami semua itu adalah di jepang. Dan gw bersyukur ada di sini,
saat ini.

Maka, mulai hari ini, jika gw mendengar kata gambaru, entah di kampus, di mall,
di iklan-iklan TV, di supermarket, di sekolahnya joanna atau di mana pun itu, gw
tidak akan lagi merasa muak jiwa raga. Sebaliknya, gw akan berucap dengan rendah
hati : Indonesia jin no watashi ni gambaru no seishin to imi wo
oshietekudasatte, kokoro kara kansha itashimasu. Nihon jin no minasan no yoo ni,
gambaru seishin wo mi ni tsukeraremasu yoo ni, hibi gambatteikitai to omoimasu.
(Saya ucapkan terima kasih dari dasar hati saya karena telah mengajarkan arti
dan mental gambaru bagi saya, seorang Indonesia. Saya akan berjuang tiap hari,
agar mental gambaru merasuk dalam diri saya, seperti kalian semuanya,
orang-orang Jepang).

by Rouli Esther Pasaribu.