All about my life : what I see,hear,and feel,I learn,interpret,and make a conclusion
Selasa, Februari 07, 2012
Minggu, Februari 05, 2012
Prinsip Dasar Manajemen Risiko (Risk Management)
Manajemen risiko mulai diperkenalkan di bidang keselamatan dan kesehatan kerja pada era tahun 1980-an setelah berkembangnya teori accident model dari ILCI dan juga semakin maraknya isu lingkungan dan kesehatan. Manajemen risiko bertujuan untuk minimisasi kerugian dan meningkatkan kesempatan ataupun peluang. Bila dilihat terjadinya kerugian dengan teori accident model dari ILCI,maka manajemen risiko dapat memotong mata rantai kejadian kerugian tersebut,sehingga efek dominonya tidak akan terjadi. Pada dasarnya manajemen risiko bersifat pencegahan terhadap terjadinya kerugian maupun ‘accident’.
Ruang lingkup proses manajemen risiko terdiri dari:
Penentuan konteks kegiatan yang akan dikelola risikonya :
- Identifikasi risiko,
- Analisis risiko,
- Evaluasi risiko,
- Pengendalian risiko,
- Pemantauan dan telaah ulang,
- Koordinasi dan komunikasi.
Pelaksanaan manajemen risiko haruslah menjadi bagian integral dari pelaksanaan sistem manajemen perusahaan/ organisasi. Proses manajemen risiko Ini merupakan salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk terciptanya perbaikan berkelanjutan (continuous improvement). Proses manajemen risiko juga sering dikaitkan dengan proses pengambilan keputusan dalam sebuah organisasi.
Manajemen risiko adalah metode yang tersusun secara logis dan sistematis dari suatu rangkaian kegiatan:penetapan konteks,identifikasi,analisa,evaluasi,pengendalian serta komunikasi risiko. Proses ini dapat diterapkan di semua tingkatan kegiatan,jabatan,proyek,produk ataupun asset. Manajemen risiko dapat memberikan manfaat optimal jika diterapkan sejak awal kegiatan. Walaupun demikian manajemen risiko seringkali dilakukan pada tahap pelaksanaan ataupun operasional kegiatan.
Terdapat empat prasyarat utama manajemen resiko,yaitu:
1. Kebijakan Manajemen Risiko
Eksekutif organisasi harus dapat mendefinisikan dan membuktikan kebenaran dari kebijakan manajemen risikonya,termasuk tujuannya untuk apa,dan komitmennya. Kebijakan manjemen risiko harus relevan dengan konteks strategi dan tujuan organisasi,objektif dan sesuai dengan sifat dasar bisnis (organisasi) tersebut. Manejemen akan memastikan bahwa kebijakan tersebut dapat dimengerti,dapat diimplementasikan di setiap tingkatan organisasi.
2. Perencanaan Dan Pengelolaan Hasil
1. Komitmen Manajemen;Organisasi harus dapat memastikan bahwa:
- Sistem manejemen risiko telah dapat dilaksanakan,dan telah sesuai dengan standar
- Hasil/ performa dari sistem manajemen risiko dilaporkan ke manajemen organisasi,agar dapat digunakan dalam meninjau (review) dan sebagai dasar (acuan) dalam pengambilan keputusan.
2. Tanggung jawab dan kewenangan;Tanggung jawab,kekuasaan dan hubungan antar anggota yang dapat menunjukkan dan membedakan fungsi kerja didalam manajemen risiko harus terdokumentasikan khususnya untuk hal-hal sebagai berikut:
- Tindakan pencegahan atau pengurangan efek dari risiko.
- Pengendalian yang akan dilakukan agar faktor risiko tetap pada batas yang masih dapat diterima.
- Pencatatan faktor-faktor yang berhubungan dengan kegiatan manajemen risiko.
- Rekomendasi solusi sesuai cara yang telah ditentukan.
- Memeriksa validitas implementasi solusi yang ada.
- Komunikasi dan konsultasi secara internal dan eksternal.
3. Sumber Daya Manusia;Organisasi harus dapat mengidentifikasikan persyaratan kompetensi sumber daya manusia (SDM) yang diperlukan. Oleh karena itu untuk meningkatkan kualifikasi SDM perlu untuk mengikuti pelatihan-pelatihan yang relevan dengan pekerjaannya seperti pelatihan manajerial,dan lain sebagainya.
3. Implementasi Program
Sejumlah langkah perlu dilakukan agar implementasi sistem manajemen risiko dapat berjalan secara efektif pada sebuah organisasi. Langkah-langkah yang akan dilakukan tergantung pada filosofi,budaya dan struktur dari organisasi tersebut.
4. Tinjauan Manajemen
Tinjauan sistem manajemen risiko pada tahap yang spesifik,harus dapat memastikan kesesuaian kegiatan manajemen risiko yang sedang dilakukan dengan standar yang digunakan dan dengan tahap-tahap berikutnya.
Manajemen risiko adalah bagian yang tidak terpisahkan dari manajemen proses. Manajemen risiko adalah bagian dari proses kegiatan didalam organisasi dan pelaksananya terdiri dari mutlidisiplin keilmuan dan latar belakang,manajemen risiko adalah proses yang berjalan terus menerus.
Elemen utama dari proses manajemen risiko,seperti yang terlihat pada gambar meliputi:
- Penetapan tujuan;Menetapkan strategi,kebijakan organisasi dan ruang lingkup manajemen risiko yang akan dilakukan.
- Identifkasi risiko;Mengidentifikasi apa,mengapa dan bagaimana faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya risiko untuk analisis lebih lanjut.
- Analisis risiko;Dilakukan dengan menentukan tingkatan probabilitas dan konsekuensi yang akan terjadi. Kemudian ditentukan tingkatan risiko yang ada dengan mengalikan kedua variabel tersebut (probabilitas X konsekuensi).
- Evaluasi risiko;Membandingkan tingkat risiko yang ada dengan kriteria standar. Setelah itu tingkatan risiko yang ada untuk beberapahazards dibuat tingkatan prioritas manajemennya. Jika tingkat risiko ditetapkan rendah,maka risiko tersebut masuk ke dalam kategori yang dapat diterima dan mungkin hanya memerlukan pemantauan saja tanpa harus melakukan pengendalian.
- Pengendalian risiko;Melakukan penurunan derajat probabilitas dan konsekuensi yang ada dengan menggunakan berbagai alternatif metode,bisa dengan transfer risiko,dan lain-lain.
- Monitor dan Review;Monitor dan review terhadap hasil sistem manajemen risiko yang dilakukan serta mengidentifikasi perubahan-perubahan yang perlu dilakukan.
- Komunikasi dan konsultasi;Komunikasi dan konsultasi dengan pengambil keputusan internal dan eksternal untuk tindak lanjut dari hasil manajemen risiko yang dilakukan.
Manajemen risiko dapat diterapkan di setiap level di organisasi. Manajemen risiko dapat diterapkan di level strategis dan level operasional. Manajemen risiko juga dapat diterapkan pada proyek yang spesifik,untuk membantu proses pengambilan keputusan ataupun untuk pengelolaan daerah dengan risiko yang spesifik.
Beberapa Istilah Penting Dalam Manajemen Risiko
1. Konsekuensi
Akibat dari suatu kejadian yang dinyatakan secara kualitatif atau kuantitatif,berupa kerugian,sakit,cedera,keadaan merugikan atau menguntungkan. Bisa juga berupa rentangan akibat-akibat yang mungkin terjadi dan berhubungan dengan suatu kejadian.
2. Biaya
Dari suatu kegiatan,baik langsung dan tidak langsung,meliputi berbagai dampak negatif,termasuk uang,waktu,tenaga kerja,gangguan,nama baik,politik dan kerugian-kerugian lain yang tidak dinyatakan secara jelas.
3. Kejadian
Suatu peristiwa (insiden) atau situasi,yang terjadi pada tempat tertentu selama interval waktu tertentu.
4. Analisis Urutan Kejadian
Suatu teknik yang menggambarkan rentangan kemungkinan dan rangkaian akibat yang bisa timbul dari proses suatu kejadian.
5. Analisis Urutan Kesalahan
Suatu metode sistem teknik untuk menunjukkan kombinasi-kombinasi yang logis dari berbagai keadaan sistem dan penyebab-penyebab yang mungkin bisa berkontribusi terhadap kejadian tertentu (disebut kejadian puncak).
6. Frekuensi
Ukuran angka dari peristiwa suatu kejadian yang dinyatakan sebagai jumlah peristiwa suatu kejadian dalam waktu tertentu. Terlihat juga seperti kemungkinan dan peluang.
Faktor intrinsik yang melekat pada sesuatu dan mempunyai potensi untuk menimbulkan kerugian.
8. Monitoring/ Pemantauan
Pengecekan,Pengawasan,Pengamatan secara kritis,atau Pencatatan kemajuan dari suatu kegiatan,tindakan,atau sistem untuk mengidentifikasi perubahan-perubahan yang mungkin terjadi.
9. Probabilitas
Digunakan sebagai gambaran kualitatif dari peluang atau frekuensi.
Kemungkinan dari kejadian atau hasil yang spesifik,diukur dengan rasio dari kejadian atau hasil yang spesifik terhadap jumlah kemungkinan kejadian atau hasil. Probabilitas dilambangkan dengan angka dari 0 dan 1,dengan 0 menandakan kejadian atau hasil yang tidak mungkin dan 1 menandakan kejadian atau hasil yang pasti.
10. Risiko Ikutan
Tingkat risiko yang masih ada setelah manajemen risiko dilakukan.
11. Risiko
Peluang terjadinya sesuatu yang akan mempunyai dampak terhadap sasaran. Ini diukur dengan hukum sebab akibat. Variabel yang diukur biasanya probabilitas,konsekuensi dan juga pemajanan.
12. Penerimaan Risiko (acceptable risk)
Keputusan untuk menerima konsekuensi dan kemungkinan risiko tertentu.
13. Analisis risiko
Sebuah sistematika yang menggunakan informasi yang didapat untuk menentukan seberapa sering kejadian tertentu dapat terjadi dan besarnya konsekuensi tersebut.
14. Penilaian risiko
Proses analisis risiko dan evalusi risiko secara keseluruhan.
15. Penghindaran risiko
Keputusan yang diberitahukan tidak menjadi terlibat dalam situasi risiko.
16. Pengendalian risiko
Bagian dari manajemen risiko yang melibatkan penerapan kebijakan,standar,prosedur perubahan fisik untuk menghilangkan atau mengurangi risiko yang kurang baik.
17. Evaluasi risiko
Proses yang biasa digunakan untuk menentukan manajemen risiko dengan membandingkan tingkat risiko terhadap standar yang telah ditentukan,target tingkat risiko dan kriteria lainnya.
18. Identifikasi Risiko
Proses menentukan apa yang dapat terjadi,mengapa dan bagaimana.
19. Pengurangan Risiko
Penggunaan/ penerapan prinsip-prinsip manajemen dan teknik-teknik yang tepat secara selektif,dalam rangka mengurangi kemungkinan terjadinya suatu kejadian atau konsekuensinya,atau keduanya.
20. Pemindahan Risiko (risk transfer)
Mendelegasikan atau memindahkan suatu beban kerugian ke suatu kelompok/ bagian lain melalui jalur hukum,perjanjian/ kontrak,asuransi,dan lain-lain. Pemindahan risiko mengacu pada pemindahan risiko fisik dan bagiannya ke tempat lain.
Sabtu, Februari 04, 2012
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Versus Produktivitas
Oleh: Jamaludin
Budaya K3 – Seringkali kita mendengar bahwa K3 merupakan suatu hal yang utama dalam pelaksanaan Industri. Baik itu industri rumahan hingga sampai industri yang berkelas besar. Bahkan pemerintah pun turun tangan dalam mengatasi permasalahan K3 yang ada pada setiap perusahaan. Permasalahan K3, pada umumnya diidentikan pada sebuah kecelakaan. Bahkan tidak jarang pula sebuah perusahaan diklaim buruk jika pada perusahaan tersebut sudah terjadi kecelakaan. Begitu pun sebaliknya, apabila dalam perusahaan tersebut belum terjadi kecelakaan mereka mengklaim perusahaannya bagus dalam penerapan K3. Padahal, pada kenyataanya K3 dalam perusahaan tersebut hanya sebagai bentuk formalitas dan slogan.
Secara kasat mata, permasalahan K3 ini merupakan suatu permasalahan yang sepele. Biasanya perusahaan, mengatasi masalah tersebut hanya dengan merekrut karyawan yang bertugas sebagai petugas K3 di dalam perusahaannya yang dinilai mampu menyelesaikan masalah tersebut. Permasalahan K3 adalah tanggung jawab petugas K3. Padahal ini salah besar, permasalahan K3 adalah tanggung jawab bersama. Peranan petugas K3 sebagai fasilitator berjalannya program-program K3 yang ada di perusahaan.
Namun, pada pelaksanaannya seringkali petugas K3 ini hanya dijadikan sebagai tameng perusahaan. Dilibatkan apabila ada permasalahan atau isu yang terkait dengan K3, atau bahkan jika terjadi kecelakaan dalam sebuah perusahaan.
Perlu ditelaah lebih mendalam akar permasalahan yang terjadi dalam sebuah perusahaan sehingga perusahaan hanya menganggap K3 sebagai pelengkap atau persyaratan pemenuhan persyaratan. Bukan sebagai kebutuhan, atau sebagai hal yang krusial dalam sebuah usaha produksi.
Kalau kita berkaca terhadap perusahaan-perusahaan asing yang berada di Indonesia. Dimana penerapan K3 ini merupakan sebuah aktivitas utama dalam setiap aspek kegiatan yang ada di perusahaan. Justru pelaksana K3 pada perusahaan tersebut bukan petugas K3 langsung. Melainkan para penanggung jawab setiap bagian atau unit dari pekerjaan. Ini bukan suatu hal yang terjadi begitu saja, atau karena memang perusahaan besar yang memiliki dana operasional besar. Itu pun salah besar, jika kita menganggap K3 itu membutuhkan biaya besar.
Biasanya kita baru sadar pentingnya K3 itu, jika sudah terjadi suatu kejadian yang nilai kerugiannya tampak jelas. Seperti terjadinya kebakaran yang sangat nyata kehilangan aset gedung beserta isinya. Kita pun baru sadar pentingnya K3, jika sudah terjadi kecelakaan yang menyebabkan Hilangnya nyawa seseorang. Besaran biaya pencegahan dibandingkan kerugian yang terjadi sangat tampak terlihat.
Sebelum kejadian, banyak yang berpikiran tidak ada waktu untuk menerapkan K3. Sering juga kita mendengar, tidak sempat melakukannya karena sedang mengejar produksi. Namun, ketika kejadian tersebut menimpanya. Bisa dibayangkan berapa kerugian yang muncul? Berapa waktu kerja yang Hilang? Berapa besarnya produksi yang tertunda?
Upaya yang dilakukan perusahaan-perusahaan besar yang sudah menerapkan K3 dalam setiap aspek kegiatan tidaklah mudah. Dalam hal ini sangat diperlukan komitmen yang kuat dari setiap level Jabatan. Bukan hanya, menuntut karyawan level bawah harus menjalankan K3 sedangkan level atas dibolehkan melanggar pelaksanaan K3. Justru hal ini dilakukan sebaliknya, sebagai atasan wajib memberikan contoh kepada bawahannya dalam melakukan segala aktivitas dengan mengutamakan keselamatan kerja.
Kunci dari penerapan K3 yang dilakukan perusahaan besar tersebut adalah Membudayakan K3 dalam kehidupan. Budaya memang suatu kata yang terlihat sepele namun memiliki makna yang sangat mendalam. Membentuk sebuah budaya, tidak semudah dengan memberikan reward atau punishment dari atasan kepada bawahannya. Budaya ini muncul dari diri kita sendiri. Dari pikiran masing-masing individu yang ada dalam sekumpulan organisasi. Budaya merupakan sebuah komitmen dari masing-masing individu. Memulai dari diri kita sendiri. Memulai dari hal yang terkecil. Memulainya dari sekarang.
Jika setiap individu sadar akan pentingnya K3 dalam kehidupan dan Membudayakan K3 dalam setiap aspek kegiatan. Maka, angka kecelakaan dapat berkurang dengan drastis. Produktivitas akan meningkat dengan sendirinya. Anda tidak percaya??? Coba dengan memulai penerapan K3 dalam kehidupan Anda, dalam setiap pekerjaan yang Anda lakukan. Mengikuti setiap arahan dan Instruksi yang diberikan atasan atau petugas K3 yang ada di perusahaan Anda. Ingat! Kita bekerja tentunya ingin pulang dengan membawa hasil dari pekerjaannya ke rumah dan dapat dinikmati bersama dengan keluarga.
Langganan:
Postingan (Atom)



