Kamis, September 23, 2010

Gaya Hidup Dunia Kerja

by: Gunawan Santoso
re-written by : Helin Simatupang

Alumni, khususnya yang baru saja lulus, seringkali mengalami kejutan saat memasuki dunia kerja. Apa yang biasa dilakukan pada waktu mahasiswa ternyata tidak bias lagi dilakukan, bahkan menghadapi banyak hal yang tidak seperti yang dibayangkan dan ‘diajarkan’ ketika mahasiswa. Karenanya perlu dibukakakn hal-hal yang penting pada dunia kerja supaya dapat melakukan persiapan yang serius sejak mahasiswa.
Untuk mempermudah pembahasan, dunia kerja dapat dibagi menjadi beberapa periode, yang mempunyai masalah dan tantangan yang berbeda sehingga perlu disikapi secara berbeda pula. Secara sederhana, periode tersebut dapat dibagi menjadi :
-          Lulus s/d masa kerja 2 tahun
-          Masa kerja 2 s/d 5 tahun
-          Masa kerja 5 s/d 10 tahun
-          Masa kerja diatas 10 tahun

Kita akan membahasnya satu persatu, tapi sengaja akan dibatasi sampai masa kerja 10 tahun supaya tidak terlalu mengambang dan lebih relevan dengan kondisi saat ini.

I. LULUS S/D MASA KERJA 2 TAHUN
Setelah lulus, alumni akan dihadapkan pada pertanyaan :
-          Usaha sendiri
-          Kerja
Masing-masing mempunyai plus minusnya sendiri dan setiap keputusan adalah sesuai dengan kemampuan dan minat masing-masing alumni.
Jika yang dipilih adalah kerja, maka pertanyaan berikutnya adalah kerja di bidang apa? Apa harus bidang keteknikan seperti pelayanan kategorial yang selama ini dikembangakan? Maka, periode ini adalah periode pencarian kerja yang cocok.

Tantangan berikutnya adalah bagaimana jika setelah sekian lama belum juga dapat pekerjaan? Bagaimana menyikapinya? Apa ada sebab atau latar belakang kenapa belum dapat kerja? Penyebabnya dapat dari dalam (kepribadian) sehingga harus ‘merubah’ diri, atau dari hal teknis (seperti interview, kemampuan berbahasa dll) yang dapat dilatih. Sering ini menjadi titik kritis pertama dimana alumni bias mundur karenanya.
Setelah mendapat kerja, maka tantangan baru muncul yaitu di bidang apa dan dimana alumni barru ini bekerja. Jika bekerja di bidang keteknikan, maka tantangannya adalah ‘kejutan budaya’ atau culture shock khususnya yang terkait dengan lingkungan kerja, manajemen waktu, teman sekerja, pacaran dan pelayanan. Jika bekerja di bidang yang sama sekali baru, tantangannya bertambah dengan keharusan belajar dalam waktu singkat bidang baru tersebut, yang sering bias bikin frustasi. Belum lagi jika tempat kerjanya berada di kota yang sama sekali baru, khususnya jika itu kota metropolitan seperti Jakarta. Tantangan jadi maskin besar, karena budaya kotanya jadi berbeda sekali. Disini titik kritis kedua alumni bias hilang, karena alumni baru tiba-tiba menjadi ‘new kids in the block’.
‘Lolos’ dari tantangan ini , akan muncul godaan baru untuk pindah kerja. Biasanya pada periode ini alas an paling utama adalah gaji atau bidang kerja/kota (tempat) yang tidak cocok. Jika bisa bertahan di tempat kerjanya, maka ybs akan bisa tahan kira-kira sampai 5 tahun.
Perlu digarisbawahi bahwa pada periode ini ‘gaya hidup’ dan ‘pola pikir’ alumni masih mirip-mirip dengan mahasiswa, sehingga kejutan yang terjadi bias terasa sekali untuk sebagian alumni. Karena masih seperti mahasiswa, masalah rohani biasanya masih bisa ‘bertahan’ pada titik ini. Tapi, pergumulan lain seperti pacaran dan pelayanan bias menimbulkan kejutan baru khususnya karena waktu dan tempat kerja yang berbeda dengan waktu mahasiswa. Keuangan biasanya juga belum jadi masalah.
Apa yang harus disiapkan untuk menghadapi periode ini? Yang paling utama adalah persiapan mental dan siap merubah paradigm dari pola pikir mahasiswa kepada pola pikir karyawan/usahawan. Semakin cepat adaptasi bias dilakukan, makin cepat juga pola pikir ini diubahkan, sehingga kemajuan dalam pekerjaan akan sangat cepat. Ini dapat dilakukan dengan banyak bergaul dengan alumni yang sudah bekerja dan banyak mengikuti kegiatan non mahasiswa.
Hal lain yang segera dilakukan adalah peningkatan kekmampuan dan skill dari calon alumni. Bukan rahasia lagi bahwa alumni Yogya terkenal dengan sikapnya yang terlalu ‘ndeso’, lemah dalam komunikasi dan argumentasi serta penguasaan bahasa asing yang agak ‘payah’. Ini hal-hal yang hasrus segera ditingkatkan.

II. MASA KERJA 2 S/D 5 TAHUN
Pada periode ini karyawan paling banyak keluar masuk tempat kerja dengan berbagai alasan, mulai dari tidak cocok dengan bidang kerjanya, gaji yang lebih tinggi atau suasana kerja yang kurang mendukung serta seabrek alasan yang lain. Jika bisa bertahan di tempat kerja semula, biasanya akan dapat bertahan kira-kira 10 tahun. Pada akhir masa 5 tahun, kira-kira kedudukannya adalah setingkat Manager. Masalah yang dihadapi lebih beragam, sehingga kemungkinan ‘jatuh’ juga menjadi meningkat.
Jika sampai 2 tahun biasanya uang tidak banyak bias ditabung, pada periode ini uang mulai meningkat. Mobil bias jadi sudah dimiliki, apakah beli atau kredit. Rumah juga mulai terpikirkan, khususnya jika mau menikah, lepas kontrak atau beli. Maka pengelolaan keuangan akan menjadi tantangan baru. Pemakaian kartu kredit harus mendapat perhatian khusus karena merupakan titik kritis bagi banyak orang.
Pergaulan akan menjadi semakin luas dan menimbulkan masalah dan tantangan baru. Teman, atasan atau kolega bisa menyeret kita ke dua arah, baik atau buruk. Setiap pilihan lingkungan pergaulan kita akan menentukan arah karier kita tapi juga arah hidup rohani kita.
Beberapa alumni memutuskan untuk mengawali bahtera pernikahan yang berakibat focus dunia kerja mulai terbagi karena saat itu karier masih belum mantap betul. Konflik juga mulai timbul karena hidup sekarang tidak sendiri lagi, tapi berdua atau bahkan sudah bertiga jika setelah menikah langsung punya anak. Konflik menjadi multi dimensi, antara pekerjaan, hubungan suami istri dan anak. Belum lagi masalah keuangan yang tiba-tiba menjadi sedikit ruwet dengan terbentuknya keluarga baru ini karena kebutuhan keluarga berbeda dengan waktu lajang.
Masalah lain yang akan timbul adalah pelayanan. Jika sebelumnya masih model mahasiswa, pada periode ini mulai mencoba bentuk pelayanan lain seperti   di gereja, persekutuan atau lembaga pelayanan lain. Ini juga berpotensi menimbulkan masalah, baik dari segi pola piker dan kebiasaan semasa mahasiswa/alumni baru, dari segi pengelolaan waktu maupun dari segi keuangan, sehingga harus disikapi dengan bijak.
Apa yang harus disiapkan. Untuk urusan pindah kerja/tidak, kita perlu menyadari apa tujuan dari pindah kerja. Jika cuma asal dapat gaji atau karier kita perlu berpikir ulang. Pengelolaan keuangan akan sangat vital khususnya jika itu terkait dengan kredit (lebih-lebih lagi kartu kredit) dan untuk mereka yang mau segera menikah.
Pondasi yang kokoh merupakan kunci pernikahan. Jangan menikah jika belum siap, karena banyak masalah menghadang. Komunikasi antar pasangan dan konseling dengan alumni atau orang yang sudah menikah cukup lama akan sangat membantu. Menentukan pelayanan yang tepat akan tergantung dari banyak pertimbangan.

III. Masa Kerja 5 s/d 10 Tahun
Inilah perioede paling kritis dari alumni ‘baru’, karena semua ‘jebakan’ dan tantangan timbul disini. Banyak alumni ‘baru’ menghilang pada periode ini karena satu dan lain hal. Penyebab utamanya karena periode ini adalah transisi ke arah kemapanan.
Dalam dunia kerja, biasanya dengan masa kerja 5-10 tahun, karier meningkat cukup tajam. Urusan pindah kerja bukan lagi sekedar mau cari gaji lebih tinggi tapi lebih kepada tantangan dan kepuasan. Biasanya berada pada level GM, VP atau bahkan untuk sebagian orang Direktur. Dengan kedudukan seperti ini, orang akan merasa mapan, biasanya juga sudah punya cukup uang dan ini masalah pertama dan utama. Penggunaan/pengelolaan uang bias menjadi batu sandungan, karena dapat digunakan dengan tidak bijak seperti untuk hura-hura/foya-foya, perempuan, hoby yang menghabiskan uang (selain waktu). Sebagian menggunakan uang untuk tujuan investasi sehingga memperoleh uang lebih banyak lagi, tapi yang lain malah terjebak dalam urusan kredit (terutama kartu kredit). Mobil dan atau rumah biasanya juga sudah punya, lepas apakah dari kredit atau punya sendiri. Kemapanan bisa menjadi berkat atau kutuk.
Pergaulan ada pada level yang berbeda yang sayangnya juga membawa bahaya. Suap, perempuan, night club atau bahkan miras dan narkoba dapat masuk dengan dalih untuk melancarkan bisnis atau networking.
Bagi yang sudah menikah, ini periode kritis. Kesibukan kerja membuat komunikasi suami istri gampang terputus dan menimbulkan percikan. Masalah kecil di dunia kerja bias terbawa ke rumah dan sebaliknya. Belum lagi jika sudah punya anak yang memerlukan perhatian yang lebih banyak. Perselisihan akan dapat lebih tajam dalam hal membesarkan dan mendidik anak. Bagi yang belum menikah, apalagi wanita, akan membawa dampak psikologis yang dapat membuat segala sesuatu menjadi ‘salah’.
Pelayanan biasanya juga sudah meningkat, baik di gereja (jadi majelis) maupun di tempat lain. Ini juga berakibat pada tersitanya waktu yang kemudian merembet ke keuarga dan pekerjaan. Pada saat itu kesaksian kita sebagai orang yang ‘sukses’ sedang dibutuhkan oleh dunia.
Jadi, bagaimana? Saat inilah semua dasar/prinsip hidup yang selama ini dipelajari, khususnya selama jadi mahasiswa dan alumni ‘baru’ diterapkan. Menjadi pribadi yang berintegritas (man of integrity) adalah kuncinya. Dan ini bias dicapai jika kita rela terus-menerus menerapkan prinsip yang benar sejak awal, misalnya mengenai suap dan perempuan, membina keluarga serta menunaikan pelayanan. Bagi saya, ini urutan prioritasnya :
-          Keluarga
-          Pekerjaan
-          Pelayanan
Banyak membaca, ikut seminar atau berkomunikasi dengan yang lebih dulu melewati jalan yang sama akan sangat membantu.

IV. Masa Kerja Diatas 10 tahun.
Ini periode yang tantangannya akan sangat berbeda dengan yang sebelumnya dan rasanya kurang tepat jika dibicarakan sekarang, mengingat masih jauhnya waktu dari dunia mahasiswa.

V. Penutup
Bagian terpenting selain mempersiapkan mental dan pola piker ketika masuk dunia kerja dan kemudian menapakinya adalah berani untuk terus membuka wawasan dan mengubah paradigm/mind set jika yang lama tidak lagi cocok konteksnya. Dare to change dare to be great.


*) Gunawan Santoso, alumni PMKT (Teknik Nuklir ’84). Saat ini menjabat sebagai Direktur Treasury PT. Bank Panin Tbk.
re-written by : Helin Simatupang

Dunia Kerja


by: Ninis Rinandari
re-written by : Helin Simatupang


Masalah yang dihadapi Alumni Baru ketika memasuki dunia kerja :
  1. Masalah Internal
  2. Masalah Eksternal

    1. Masalah Internal
    Masalah Internal adalah masalah yang dari dalam alumni itu sendiri :

    Gagap Budaya
    Perbedaan antara dunia mahasiswa dan dunia kerja sering menjadi kendala karena alumni sering kurang cepat tanggap menyikapi tantangan tersebut. Dalam menghadapi permasalahan untuk pengambilan keputusan terkadang masih memakai pola pikir mahasiswa, kurang cepat bertindak dan cenderung tidak realisits sehingga kurang membumi.

    Kemampuan Pribadi
    Alumni tidak siap berkembang karena memang lulusan PT sering kali tidak siap kerja tetapi seharusnya siap untuk berkembang. Tidak semua alumni bias bekerja dalam bidang yang sesuai dengan jurusannya. Karena pada dasarnya tidak ada yang bias 100 persen bekerja sesuai dengan disiplin ilmu yang ditekuni (khususnya Teknik, tidak termasuk bidang medis). Sehingga apabila terjun ke bidang lain terkadang mengalami kesulitan utnuk menyesuaikan diri karena pola piker yang masih sempit.

    Skill/Ketrampilan yang mendukung
    Alumni kurang memiliki skill/ketrampilan di luar bidang akademis yang seharusnya menjadi point positif yang bias menunjang kerja
    Alumni harus memperlengkapi diri dengan ketrampilan di luar bidang teknisnya, contoh yang umum adalah kemampuan berbahasa (Inggris, China). Disamping itu bias melengkapi diri juga dengan kemampuan teknis praktis lain missal Komputer, Bisnis (terlibat dalam proyek), dll.

    Keluarga
    Kondisi keharmonisan dalam keluarga alumni juga terkadang dapat menjadi hambatan untuk menentukan langkah dalam dunia kerja.
    Contoh : apabila alumni sudah menentukan pilihan untuk berkeluarga sementara pada saat yang sama masih belum mantap dalam bekerja. Juga pilihan untuk mencari pendamping hidup terkadang sangan berperngaruh dalam mengambil keputusan bekerja. Diluar itu mungkin ada problem internal keluarga yang cukup berat yang banyak dihadapi keluarga Kristen akhir-akhir ini (konflik keluarga yang tak kunjung selesai).


    2. Masalah Eksternal
    Masalah yang ada di luar diri alumni yang sangat mempengaruhi keputusan dalam bekerja:

    Persaingan Global
    Persaingan dalam memperebutkan lapangan kerja tidak berasal lagi dari dalam negeri tetapi juga luar negeri (semakin banyaknya ekspatriat yang bekerja di Indonesia). Dengan meningkatnya taraf kehidupan masyarakat cenderung semakin banyak lulusan dari luar negeri yang juga membuat persaingan kerja akan semakin tinggi (lulusan S2 semakin banyak).

    Lapangan kerja semakin kecil
    Jumlah lapangan kerja tidak sebanding dengan jumlah pencari kerja membuat persaingan dalam mencari kerja akan semakin susah.

    Tuntutan Profesional Kerja
    Perusahaan akan semakin meningkatkan kualifikasi karyawand engan semakin tingginya persaingan dalam bisnis sehingga juga akan mempersulit kesempatan mengisi lowongan kerja yang ada.

    Menghadapi masalah-masalah di atas yang harus dilakukan adalah :
    1. Terus membuka wawasan
    2. Siap untuk berkompetisi
    3. Siap untuk menciptakan lapangan kerja atau membuka usaha sendiri.

    *) Ninis Rinandari adalah Alumni PMKT (Teknik Kimia ’88). Sekarang bekerja di Bank Panin Tbk.
    re-written by : Helin Simatupang

    Rabu, September 15, 2010

    Meraih Mimpi (oleh: J-Rocks)


    mari berlari meraih mimpi
    menggapai langit yang tinggi
    jalani hari dengan beranitegaskan suara hati

    kuatkan diri dan janganlah kau ragu
    tak kan ada yang hentikan langkahmu

    Reff :
    ya..ya..kita kan terus berlari
    ya..ya..tak kan berhenti di sini
    ya..ya..larilah meraih mimpi
    ya..ya..hingga nafas tlah berhenti

    ku akan bertahan
    hadapi rintangan
    perlahan-lahan dan menang
    jalani hari dengan berani
    tegaskan suara hati

    kuatkan diri dan janganlah kau ragu
    tak kan ada yang hentikan langkahmu

    Back to Reff

    tak ada yang tak mungkin
    ’bila kita yakin
    pastilah engkau dapati


    Wonderful Day


    Today I Will Walk with my hands in God
    Today I will trust in Him and not be afraid
    For He will be there, for He will be there
    Every moment to share, on this wonderful day
    He has made

    Hari bahagia dalam hidupku
    Berjalan bersamaMu Yesus Tuhanku
    Sbab Kau sertaku, slalu sertaku
    Sepanjang hidupku bahagia selalu
    Sertaku




    September, 15th, 2010

    Sabtu, September 04, 2010

    Bagi Hawking, Dalil Ilmiah adalah "Tuhan"


    IVAnews - Teori fisikawan terkemuka, Stephen Hawking, bahwa Tuhan tidak ada sangkut pautnya dengan penciptaan alam semesta telah mengundang reaksi keras dari kaum rohaniwan di Inggris. Menurut mereka, teori Hawking itu tidak bisa diterima sebagai kebenaran apalagi sampai mengusik keimanan orang lain.
    Kepala Gereja Kristen Anglikan, Rowan Williams, tidak bisa menerima argumen Hawking bahwa alam semesta bisa tercipta tanpa campur tangan Tuhan. Menurut Williams, manusia sejak dahulu percaya bahwa Tuhan menciptakan semesta.
    "Percaya kepada Tuhan bukan sekadar mengisi kekosongan dalam menjelaskan bagaimana suatu hal terkait dengan hal lain di dalam alam semesta," kata Williams dalam majalah "Eureka" terbitan harian The Times.
    "Kepercayaan itulah yang menjelaskan bahwa ada suatu unsur yang pintar dan hidup dimana segala sesuatu pada akhirnya bergantung pada keberadaannya," lanjut Williams yang komentarnya juga dikutip laman harian The Telegraph, Jumat 3 September 2010. 
    "Ilmu fisika dengan sendirinya tidak akan menjawab pertanyaan mengapa ada ketimbang tiada," lanjut Williams. Dia mengritik pernyataan Hawking bahwa,"Karena ada hukum seperti gravitasi, alam semesta bisa dan akan tercipta sendiri."
    Williams pun tidak habis pikir dengan pernyataan ilmuwan berusia 68 tahun itu bahwa "Kreasi yang spontan merupakan alasan mengapa ada ketimbang tiada, mengapa alam semesta ada, mengapa kita ada."
    Selain Williams, kritik juga muncul dari pemuka agama lain, seperti Pemimpin Gereja Katolik Roma di Inggris, Lord Sacks, dan Ibrahim Mogra, Ketua Dewan Muslim Inggris. Kepada The Times, Lord Sacks menilai bahwa ilmu pengetahuan merupakan suatu penjelasan, sedangkan agama adalah menyangkut tafsiran. 

    Melalui buku barunya yang akan terbit 9 September mendatang, "The Grand Design," Hawking mementahkan keyakinan Isaac Newton - dan juga pandangan Hawking sendiri - bahwa jagat raya termasuk Bumi terbentuk akibat campur tangan ilahi.
    Dalam ringkasan buku yang pertama kali diterbitkan harian Inggris, The Times, Hawking menantang teori Newton bahwa alam semesta pastinya didesain oleh Tuhan karena tidak mungkin muncul dari fenomena chaos. Buku terbaru itu ditulis Hawking bersama fisikawan Amerika, Leonard Mlodinow.
    Bukan kali ini saja Hawking mengesampingkan konsep Tuhan dalam mengemukakan teorinya. Dalam wawancara dengan stasiun televisi Inggris, Channel 4, Juni lalu, Hawking mengaku tidak percaya bahwa ada Tuhan secara "personal."
    "Pertanyaannya adalah, apakah demikian caranya alam semesta mulai dipilih oleh Tuhan bagi alasan-alasan yang kita tidak bisa pahami, atau apakah itu ditentukan oleh suatu dalil ilmiah?" Saya percaya yang kedua," kata Hawking saat itu dalam program acara "Genius of Britain."
    "Bila kalian mau, kalian bisa menyebut dalil-dalil ilmiah itu 'Tuhan.' Namun bukan seperti suatu Tuhan yang personal yang bisa kalian temui dan kalian tanya," lanjut Hawking.

    Jumat, September 03, 2010

    Fakta tentang Malaysia yang tidak diketahui rakyatnya


    1. Pengakuan secara jujur dari Datuk Anwar Ibrahim pada NewYork Times, bahwa sebagian besar pemimpin Malaysia terlalu pongah dan sombong meskipun sebenarnya Malaysia adalah negara lemah dan korup sehingga tidak bisa menghargai negara-negara tetangganya.(Di Indonesia ada KPK)

    2. Terbatasnya akses informasi dari media informasi ( surat kabar, televisi dan lain-lain) bagi rakyat Malaysia sehingga hanya sedikit saja informasi mengenai negara-negara tetangga yang dipunyai. Hal ini menyebabkan hidup rakyat Malaysia seperti katak dalam tempurung. Akibatnya, mereka merasa pintar padahal sesunggunya hidup dalam kemalasan dan kebodohan yang teramat sangat. Nilai-nilai demokrasi yang dicapai oleh negara tetangganya tidak banyak diketahui oleh rakyat Malaysia . Hal ini memang disengaja oleh pemerintah mereka agar rakyat tetap bodoh sehingga tidak membahayakan kekuasaan mereka.( Malaysia negara demokrasi????)

    3. Menurut analisis Robert C. Lie (Times magazine, June 2007), fenomena yang berlaku di Malaysia ini dalam istilah psikologi merupakan mekanisme pertahanan diri. Intinya, adanya kelemahan, kebodohan, serta kegagalan bangsa Malaysia mengaktualisasikan diri sebagai suatu bangsa yang bisa dihormati oleh bangsa lainnya menyebabkan mereka berusaha sekuat tenaga membalik penilaian tersebut dengan memberikan stigma yang lebih jelek terhadap negara tetangganya.

    4. Analisis dari Dinas Rahasia Russia (2006) terhadap fenomena teroris Dr. Azahari dan Nurdin Moh. Top, menyatakan bahwa kedua orang tersebut adalah merupakan kaki tangan / agen rahasia Malaysia bekerjasama dengan CIA disusupkan ke Indonesia untuk mencegah fenomena kebangkitan Islam moderat di Indonesia. Seperti Analisis dari CIA, keberhasilan proses demokratisasi di Indonesia yang diikuti dengan kebangkitan Islam di Indonesia akan menjadikan Indonesia sebagai Negara besar dan maju di regional Asia Pasifik. Kondisi ini jelas tidak menguntungkan bagi Malaysia yang berupaya menjadi pemimpin di wilayah ini namun tidak memiliki kemampuan sama sekali. Kepentingan USA terhadap wilayah ini juga akan terganggu bila Indonesia berhasil muncul menjadi Negara besar dan maju di kawasan ini.

    5. Dalam era globalisasi dewasa ini, peperangan bukan lagi menjadi suatu kunci bagi memenangi suatu persaingan. Justru saat ini yang dibutuhkan adalah soft power. Keunggulan budaya salah satunya. Dalam banyak hal ini jelas sekali keunggulan budaya Indonesia atas Malaysia . Lagu-lagu Indonesia banyak membanjiri Malaysia , bahkan menjadi top chart di negara mereka. Belum lagi hasil-hasil budaya lainnya seperti film, kerajinan, pencak silat, kebudayaan tradisional, dan lain-lain. Arsitektur misalnya, sudah menjadi pengetahuan umum bila menara kembar Petronas mencontek dari desain Candi Prambanan di Indonesia. Fenomena ini diakui oleh budayawan serta banyak artis Malaysia, salah satunya adalah Amy yang begitu gundah atas membanjirnya produk budaya dari Indonesia ke Malaysia

    6. Tidak ada satupun kurikulum mancanegara yang memasukkan mata pelajaran bahasa Malaysia kedalam kuliahnya, satu-satunya turunan dari bahasa melayu yang dijadikan kurikulum pendidikan bahasa asing adalah bahasa Indonesia.(Universit y di Australia, Belanda, Rusia, China, Jepang, Eropa, USA). Hal ini disebabkan karena bahasa Indonesia merupakan salah satu bahasa yang berpotensi semakin besar pemakaiannya di dunia (UNESCO).

    Dikutip dr berbagai sumber
    https://www.cia.gov/library/publications/the-world-factbook/geos/my.html


    Regards